Ketika Zina Berkalung Sorban

Pernikahan adalah sebuah ikatan yang kuat dan perjanjian yang teguh antara lelaki dengan perempuan dengan landasan niat untuk bergaul sebagai suami-isteri yang abadi. Dengan pernikahan tersebut diharapkan ada buah yang bisa dipetik sebagaimana yang telah Allah dalam al-Qur’an, yaitu ketenteraman, kecintaan, dan kasih sayang.

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar Rum: 21)

Sedang tujuan yang bersifat duniawi yaitu demi berkembangnya keturunan dan kelangsungan jenis manusia. Seperti yang diterangkan Allah dalam al-Qur’an, “Allah telah menjadikan jodoh untuk kamu dari jenismu sendiri, dan Ia menjadikan untuk kamu dari perjodohanmu itu anak-anak dan cucu.” (QS.An-Nahl: 72)

Namun pada kenyataannya sekarang, adakalanya pernikahan dijalankan tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang sebenarnya. Sehingga tujuan untuk meraih ketenteraman, kecintaan, dan kasih sayang dalam hubungan suami-istri yang abadi diabaikan. Pernikahan hanya dilakukan hanya sesaat atau semusim saja, bukan selamanya. Karenanya ada praktek pernikahan yang secara hukum sah namun diharamkan dan ada pula praktek nikah yang jelas-jelas diharamkan namun marak terjadi.

Nikah Dengan Niat Thalaq

Kejadian ini sering terjadi di sebuah daerah di mana banyak orang asing dari luar negeri yang datang dengan visa sebagai wisatawan dengan waktu yang terbatas. Dengan alasan untuk menghindari perbuatan zina, maka orang asing tersebut mencari perempuan untuk dinikahi. Maka setelah menemukan perempuan yang diinginkan, keduanya menikah dengan syarat dan rukun yang lengkap. Sah!

Padahal, kondisi bahwa orang asing tersebut tidak bisa berlama-lama menetap di Indonesia disadari oleh semua pihak. Baik orang asing itu sendiri, si perempuan, wali, dan juga para saksi. Maka ketika si orang asing habis masa visanya, dia pun terbang kembali ke negeri asalnya, meninggalkan perempuan yang telah dinikahinya dan telah menjadi istrinya. Dan tak pernah kembali.

Kondisi ini mungkin hampir mirip dengan apa yang tersaji dalam film “Kawin Kontrak”.

Nikah Mut’ah

Jika nikah dengan niat thalaq hukumnya sah, karena lengkap syarat dan rukunnya, maka nikah Mut’ah ini jelas-jelas tidak sah. Karena pernikahan jenis ini dilakukan tanpa adanya wali dan saksi. Yang ada hanya seorang lelaki dan seorang perempuan yang mengucapkan ijab qabul di bawah pohon rindang dengan sinaran purnama dan kerlipan bintang di langit malam. Mahar yang diberikan adalah hasil tawar-menawar di antara keduanya. Hubungan suami-istri di antara keduanya pun di tentukan masanya, sekian bulan, sekian hari, atau mungkin sekian jam saja. Setelah selesai jangka waktunya, keduanya otomatis bercerai.

Dalam sebuah buku yang pernah saya baca, pernikahan jenis ini marak terjadi di kalangan kaum muda-mudi dan mahasiswa. Karena hasrat menikah yang tidak terbendung dan ingin terhindar dari perzinahan, maka mereka memilih jalan ini yang sebenarnya justru bentuk lain dari perzinahan.

Dahulu, memang perkawinan ini pernah dilakukan oleh para sahabat atas izin Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika itu, kondisi kaum muslimin masih dalam sebuah perjalanan masa transisi di mana perzinahan merjalela di masa jahiliyah. Maka setelah Islam datang dan menyerukan kepada pengikutnya untuk pergi berperang, dan jauhnya mereka dari isteri merupakan suatu penderitaan yang cukup berat. Sebagian mereka ada yang imannya kuat dan ada pula yang lemah.

Yang imannya lemah, akan mudah untuk berbuat zina sebagai suatu perbuatan yang keji dan cara yang tidak baik. Sedang bagi mereka yang kuat imannya berkeinginan untuk kebiri dan mengimpotenkan kemaluannya, seperti apa yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud, “Kami pernah berperang bersama Rasulullah sedang isteri-isteri kami tidak turut serta bersama kami, kemudian kami bertanya kepada Rasulullah, apakah boleh kami berkebiri? Maka Rasulullah melarang kami berbuat demikian dan memberikan rukhshah supaya kami kawin dengan perempuan dengan maskawin baju untuk satu waktu tertentu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Di kemudian hari, kebolehan nikah mut’ah pun dicabut.

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkannya sampai hari kiamat.” (Riwayat Muslim)

Dari Ali bin Abi Thalib bahwa Rasulullah SAW telah mengharamkan menikah mut’ah dengan wanita pada perang Khaibar dan makan himar ahliyah. (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena nikah mut’ah membolehkan nikah tanpa adanya wali, maka Al-quran pun menggugurkan kebolehan nikah mut’ah.

“…karena itu kawinilah mereka dengan seizin keluarga mereka …” (QS. An-Nisa : 25)

Wallahu a’lam.

Disarikan dari Kajian Fiqih Nikah di masjid kantor dan beberapa sumber lainnya.

92 respons untuk ‘Ketika Zina Berkalung Sorban’

  1. zaffara Juli 8, 2011 / 00:00

    judulnya pas…hehe

  2. dieend18 Juli 8, 2011 / 00:00

    Makasih sharingnya mas Rifky…Sy pny temen, dia dan clon suaminya tinggal di Inggris. Sewaktu mereka menikah, keluarga merestui, tp krn jauh jd tak seorg keluargapun yg dtg. Mereka ttp menikah hanya dg disaksikan oleh jamaah masjd di Inggris sana. Nah kl yg begitu gmana ya?

  3. jampang Juli 8, 2011 / 00:00

    zaffara said: judulnya pas…hehe

    itu juga ngambil dari omongan penceramahnya, teh

  4. jampang Juli 8, 2011 / 00:00

    dieend18 said: Makasih sharingnya mas Rifky…Sy pny temen, dia dan clon suaminya tinggal di Inggris. Sewaktu mereka menikah, keluarga merestui, tp krn jauh jd tak seorg keluargapun yg dtg. Mereka ttp menikah hanya dg disaksikan oleh jamaah masjd di Inggris sana. Nah kl yg begitu gmana ya?

    sama-sama mbak.berdasarkan cermah yang saya dapat… keberadaan wali sangat penting, seperti keterangan di atas. Ayah dari pengantin perempuan adalah wali yang paling utama. namun jika berhalangan atau sudah meninggal bisa digantikan dengan wali lain sesuai urutan dan tingkat kedekatannya dengan si perempuan.tetapi seorang wali bisa mewakilkan kepada orang yang dipercayakannya, misalnya kepada wali hakim. tapi dengan catatan proses mewakilkannya itu disampaikan langsung dari wali pihak perempuan kepada orang yang dipercaya tersebut.wallahu a’lam.

  5. hwwibntato Juli 8, 2011 / 00:00

    mantap … he he he …jazakallahu khairan …

  6. onit Juli 8, 2011 / 00:00

    gak bahas selingkuh brkalung sorban mas?topik favorit tuh hehehe

  7. jampang Juli 8, 2011 / 00:00

    hwwibntato said: mantap … he he he …jazakallahu khairan …

    sama-sama, mas.mohon dikoreksi jika ada yg salah 🙂

  8. jampang Juli 8, 2011 / 00:00

    onit said: gak bahas selingkuh brkalung sorban mas?topik favorit tuh hehehe

    yang gimana, mbak?selingkuhnya kan udah gak boleh … :)ditutupin sorbannya gimana?

  9. dieend18 Juli 8, 2011 / 00:00

    Disini beberapa kali sy menemui kejadian spt ini mas..Ayahnya msh hidup, tp mereka menikah di rantau tanpa kehadiran wali/keluarganya…

  10. jampang Juli 8, 2011 / 00:00

    dieend18 said: Disini beberapa kali sy menemui kejadian spt ini mas..Ayahnya msh hidup, tp mereka menikah di rantau tanpa kehadiran wali/keluarganya…

    seorang ayah kandung punya hak untuk mewakilkan kewaliannya kepada orang lain yang ditunjuknya. Sehingga dengan seizin ayah kandung, setiap laki-laki yang memenuhi syarat menjadi walil bisa menjadi wali bagi seorang wanita. Namun tanpa izin yang jelas dari ayah kandung, pernikahan itu tidak syah bila dilakukan dengan wali ‘gadungan’.wallahu a’lam

  11. dieend18 Juli 8, 2011 / 00:01

    Makasih sharingnya ya mas…

  12. onit Juli 8, 2011 / 00:01

    jampang said: yang gimana, mbak?selingkuhnya kan udah gak boleh … :)ditutupin sorbannya gimana?

    polig*** yg gak pake ijin istri pertama 🙂

  13. jampang Juli 8, 2011 / 00:01

    dieend18 said: Makasih sharingnya ya mas…

    sama-sama, mbak. semoga bermanfaat.tapi untuk lebih meyakinkan, mbak tanya lagi kepada orang yang lebih faham soal ini.

  14. jampang Juli 8, 2011 / 00:01

    onit said: polig*** yg gak pake ijin istri pertama 🙂

    kalao poligami sih gak bisa disamain sama selingkuh, mbak. soalnya selama syarat dan rukun nikah terpenuhi nikahnya sah.hmm… secara syariat, seorang lelaki boleh menikah tanpa sepengetahuan keluarga, semisal ayah dan ibunya. Jadi nikahnya tetap sah jika syarat dan rukunnya terpenuhi. namun mungkin kurang etis jika menikah tapi gak ada satu pun keluarga yang tahu.begitu juga halnya untuk menikah yang kedua kali, izin istri, tidak diperlukan. nikahnya lelaki dengan istri kedua tanpa pengetahuan atau izin istri pertama tetap sah. namun demikian, secara hukum undang-undang perkawinan, izin istri dijadikan suatu syarat bisa atau tidaknya terjadi pernikahan kedua.jadi mungkin hampir sama dengan kwadran di atas, ada yang sah secara syar’i dan hukum negara, ada yang sah secara syar’i tapi tidak secara hukum negara, ada wallahu a’lam.

  15. henidebudi Juli 8, 2011 / 00:01

    aiiihhh *tutup mata*

  16. onit Juli 8, 2011 / 00:01

    jampang said: begitu juga halnya untuk menikah yang kedua kali, izin istri, tidak diperlukan. nikahnya lelaki dengan istri kedua tanpa pengetahuan atau izin istri pertama tetap sah. namun demikian, secara hukum undang-undang perkawinan, izin istri dijadikan suatu syarat bisa atau tidaknya terjadi pernikahan kedua.

    jadi menurut mas, dr 2 paragrap di atas,yg pertama: hukum agamayg kedua: hukum negarabegitu?

  17. jampang Juli 8, 2011 / 00:01

    henidebudi said: aiiihhh *tutup mata*

    awas kesandung, mbak

  18. jampang Juli 8, 2011 / 00:01

    onit said: jadi menurut mas, dr 2 paragrap di atas,yg pertama: hukum agamayg kedua: hukum negarabegitu?

    kalau mau aman dan jauh lebih baik… ya kedua2nya harus dipenuhi, sebagai seorang muslim, ada kewajiban untuk taat kepada pemerintah di mana dia berada selama bukan dalam hal kemaksiatan.lain halnya jika hukum agama dijadikan hukum negara, jadi cukup satu aja 🙂

  19. jampang Juli 8, 2011 / 00:01

    oh iyah… satu lagi… poligami halal… tapi gak harus dilakukan :)*ditepukin tangan sama ibu2 MP

  20. onit Juli 8, 2011 / 00:01

    kan aku nanya mas.. apa benar yg disebut di atas itu hukum agama & hukum negara? kalo yg hukum negara saya tau sih, ada di uu perkawinan. tapi klo yg hukum agama apa benar begitu? tertulis di mana? terima kasih.

  21. thetrueideas Juli 8, 2011 / 00:01

    Jadi semangat lagi nih! Lho? 🙂

  22. ipie Juli 8, 2011 / 00:01

    Nikah yg sesuai syariat islam n sah dong ah

  23. jampang Juli 8, 2011 / 00:01

    onit said: kan aku nanya mas.. apa benar yg disebut di atas itu hukum agama & hukum negara? kalo yg hukum negara saya tau sih, ada di uu perkawinan. tapi klo yg hukum agama apa benar begitu? tertulis di mana? terima kasih.

    sepengetahuan saya seh, di dalam kajian fiqih tidak ada yang menyatakan bahwa pernikahan kedua harus mendapat persetujuan istri pertama. karena ketentuan tersebut tidak tertulis di mana-mana, makanya saya mengikutin pendapat yg menyatakan : dalam fiqih tidak diharuskan adanya izin istri pertama jika suami ingin menikah lagi. kecuali jika ada keterangan yang menyatakan sebaliknya, dan bila itu lebih kuat, maka saya akan berpendapat lain.kira-kira begitu, mbak

  24. jampang Juli 8, 2011 / 00:01

    thetrueideas said: Jadi semangat lagi nih! Lho? 🙂

    masih naik turun, mas 🙂

  25. jampang Juli 8, 2011 / 00:01

    ipie said: Nikah yg sesuai syariat islam n sah dong ah

    aamiin… insya Allah

  26. onit Juli 8, 2011 / 00:01

    jampang said: pendapat yg menyatakan : dalam fiqih tidak diharuskan adanya izin istri pertama jika suami ingin menikah lagi. kecuali jika ada keterangan yang menyatakan sebaliknya, dan bila itu lebih kuat, maka saya akan berpendapat lain.

    *manggut2*yah maap saya anggap jawabannya ndak memuaskan. soalnya ini lagi2 soal “pendapat siapa yg lebih didengar” tentu saja ada kemungkinan pihak2 yg menyembunyikan pendapat yg tidak disukainya.juga soal… membedakan antara “tidak diharuskan” atau “tidak disebutkan / tidak ada tuntunannya” sehingga kalau tidak ada tuntunan, saya pribadi akan kembali ke hati nurani, “istri adalah manusia, bukan barang bisu yg tidak perlu ditanyai aspirasinya.” kalo gak ditanyain trus tau2 suami punya yg lain, judulnya selingkuh bukan?kalo menurut saya, agama itu pasti sesuai dgn hati nurani. karena datangnya dari yg menciptakan hati nurani. sekian dulu mas. maap gak bisa ngasih teori.

  27. grasakgrusuk Juli 8, 2011 / 00:01

    oo, ternyata itu arti nikah mut’ah.. dari dulu penasaran tp lupa gugling terus..

  28. grasakgrusuk Juli 8, 2011 / 00:01

    jampang said: hmm… secara syariat, seorang lelaki boleh menikah tanpa sepengetahuan keluarga, semisal ayah dan ibunya. Jadi nikahnya tetap sah jika syarat dan rukunnya terpenuhi. namun mungkin kurang etis jika menikah tapi gak ada satu pun keluarga yang tahu.

    Yang kayak gini banyak yang kejadian yah.. bawa rombongan ternyata rombongan orang sewaan.. 🙂

  29. jampang Juli 9, 2011 / 00:01

    @mbak onit : mohon maaf mbak kalau jawaban saya kurang memuaskan. itu krn keterbatasan pengetahuan agama saya. mungkin mbak bisa bertanya dan mencari jawaban yg lebih memuaskan. saya juga mau cari-cari tahu juga.

  30. jampang Juli 9, 2011 / 00:01

    @mbak wewet : ya kurang lebih kira-kira seperti itu mbak.untuk mencegah yg seperti itu, sebaiknya masing2 diperkenalkan atau tahu anggota keluarga satu sama lain. biar gak ada dusta 🙂

  31. ungunyalangit Juli 10, 2011 / 00:01

    hehe

  32. jampang Juli 11, 2011 / 00:01

    koq ketawa?

  33. ungunyalangit Juli 12, 2011 / 00:01

    kirain judul film baru

  34. jampang Juli 12, 2011 / 00:01

    ungunyalangit said: kirain judul film baru

    kalau iyah, berminat ikut audisi? 🙂

  35. ungunyalangit Juli 12, 2011 / 00:01

    hehe nggak kak rifki,, biar syaikhan ajah

  36. ungunyalangit Juli 12, 2011 / 00:01

    hehe nggak kak rifki,, biar syaikhan ajah

  37. jampang Juli 12, 2011 / 00:01

    ungunyalangit said: hehe nggak

    xixixixi… kirain 🙂

  38. jampang Juli 12, 2011 / 00:01

    ungunyalangit said: kak rifki

    hwaaaa… di[anggil kakak… jadi ngerasa muda lagi

  39. ungunyalangit Juli 13, 2011 / 00:01

    hoho pak rifki daaah,, bapaknya syaikhan

  40. jampang Juli 13, 2011 / 00:01

    ungunyalangit said: hoho pak rifki daaah,, bapaknya syaikhan

    yah, tua lagi deh

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s