Ketika Allah Memerintahkan Untuk Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Salah satu komentar di coretan saya sebelum ini yang berjudul “Sepucuk Surat Untuk Ayah”  mengingatkan saya akan hal yang disampaikan oleh seorang ustadz dalam sebuah ceramah beberapa hari yang lalu. Saya tidak bisa mengingat semuanya, namun kurang lebih seperti inilah kira-kira kalimatnya :

Ketika Allah menetapkan kewajiban bagi orang beriman untuk melakukan shalat, yakinlah bahwa perintah shalat tersebut dikaitkan dengan waktu tertentu (kapan melaksanakan shalat yang lima waktu sudah ditentukan waktunya).

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103).

Ketika Allah menetapkan kewajiban bagi orang beriman untuk melakukan puasa, yakinlah bahwa perintah puasa tersebut dikaitkan dengan waktu tertentu (selama Bulan Ramadhan).

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu.” (QS. Al-Baqarah : 183-184).

Ketika Allah menetapkan kewajiban bagi orang beriman untuk melakukan haji, yakinlah bahwa perintah haji tersebut dikaitkan dengan waktu dan tempat tertentu (Syawwal, Dzulqo’dah, 10 hari Dzulhijjah dan tempatnya adalah Mekkah dan Madinah)

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.” (QS. Al Baqarah: 197)

“Haji itu adalah Arafah.” (HR Ibnu Hibban)

Ketika Allah menetapkan kewajiban bagi orang beriman untuk melakukan zakat, yakinlah bahwa perintah zakat tersebut dikaitkan dengan waktu tertentu. Seperti zakat fitrah yang dilakukan di akhir Bulan Ramadhan. Zakat mal berupa emas, perak, perdagangan, dan hewan ternak yang mensyaratkan haul atau satu tahun. Zakat pertanian yang dilakukan setiap kali panen.

Namun, ketika Allah menetapkan kewajiban bagi orang beriman untuk berbakti kepada kedua orang tua, yakinlah bahwa perintah  berbakti kepada kedua orang tua tersebut tidak dikaitkan dengan waktu tertentu ataupun tempat tertentu. Selama seorang anak masih hidup dan kedua orang tuanya hidup, maka kewajiban berbakti tersebut tetap ada. Bahkan ketika kedua orang tuanya sudah tiada, kewajiban berbakti tetap ada dan melekat hingga dirinya meninggal dunia.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Q.S Al Israa’, 17:23)

Wallaahu a’lam.

12 respons untuk ‘Ketika Allah Memerintahkan Untuk Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

  1. danirachmat Juni 16, 2014 / 22:17

    Jadi kangen sama orang tua di surabaya Bang. Maturnuwun diingatkan.. 🙂

  2. pinkvnie Juni 16, 2014 / 23:13

    Jadi mau minta maaf sama ortu karna banyak banget kesalahan dan kekhilafan … 🙂

    • jampang Juni 17, 2014 / 05:22

      insya Allah langsung dimaafkan 😀

    • jampang Juni 17, 2014 / 16:50

      betul kata penceramah itu, kang. saya cuma ngutip aja 😀

  3. ysalma Juni 17, 2014 / 17:03

    Jadi ingat saat-saat bapak yang semakin berat jalannya ikut kami, sekarang masih suka nangis kalau ingat beliau, rasanya masih kurang lama merawat merawat beliau.

    • jampang Juni 17, 2014 / 20:44

      Yang penying sudah berusaha sebaik mungkin, uni.

  4. Vinda Filazara Juni 17, 2014 / 22:31

    Bentar lagi liburan. Harus pulang pokoknya.
    Jazakumullah. Postingannya bermanfaat 🙂

    • jampang Juni 18, 2014 / 05:17

      Insya Allah bisa pulang 😀

      Sama-sama

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s