Penghargaan : Harmonisasi Keluarga Untuk Keutuhan Negeri

couple-make-a-heart-sign

Setelah menghabiskan sarapan dan memasukkan bekal ke dalam tas, sesaat sebelum berangkat ke kantor, saya sempatkan untuk memberikan kecupan di beberapa bagian wajah Minyu sambil berucap, “Terima kasih atas sarapan dan bekalnya!”

*****

Penghargaan adalah sebuah kebutuhan hidup bagi setiap manusia. Tetapi bukan sebagai kebutuhan hidup paling dasar. Bukan kebutuhan primer. Bukan pula kebutuhan sekunder. Sebab tanpa penghargaan, manusia masih bisa untuk bertahan hidup. Meski mungkin hidupnya tidak nyaman.

Menurut Abraham Maslow, jika sandang, pangan, dan papan merupakan kebutuhan fisiologis yang berada pada urutan terendah dalam piramida kebutuhan, maka kebutuhan akan penghargaan berada pada tingkat yang jauh lebih tinggi. Ia berada pada tingkat keempat. Karenanya, kebutuhan akan penghargaan hanya akan dicari pemenuhannya oleh seseorang manakala kebutuhan di tingkat sebelumnya sudah didapat. Tentu saja saya termasuk bagian dari “seseorang” itu.

MaslowsHierarchyOfNeeds
sumber : en.wikipedia.org

Saat ini, saya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil. Gaji yang saya terima setiap bulannya, saya gunakan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis saya seperti makanan, pakaian, rumah, kendaraan, dan sebagainya. Untuk jenis kebutuhan yang mendasar ini, saya tidak mengalami kekurangan.

Saya tinggal di sebuah lingkungan yang aman dan nyaman. Tak ada yang mengganggu apalagi menyakiti diri saya. Lingkungan tempat saya bekerja pun demikian sehingga saya bisa melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh atasan. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa kebutuhan tingkat kedua dalam teori piramida kebutuhan Maslow sudah saya penuhi.

Saya sudah menikah, memiliki istri dan anak. Saya juga memiliki banyak teman, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Kepada mereka semua saya berinteraksi. Tentu saja interaksi kepada istri dan anak lebih besar dari sisi kwalitas maupun kwantitas dibandingkan dengan orang lain. Dengan keadaan seperti itu, bisa dikatakan bahwa saya sudah mampu memenuhi kebutuhan sosial saya.

Alhamdulillah.

Lantas bagaiamana dengan tingkat kebutuhan berikutnya? Apakah saya sudah mendapatkan penghargaan atas apa yang pernah saya lakukan atau kerjakan?

Dalam hal pekerjaan, saya sudah beberapa kali mendapatkan kenaikan gaji, jabatan, pangkat, serta golongan. Itu adalah sebuah pernghargaan yang saya terima dari instansi tempat saya mengabdi. Beberapa tahun yang lalu, saya juga pernah mendapatkan penghargaan dalam bentuk Satya Lencana karena sudah mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil selama sepuluh tahun.

Terkait dengan hobi saya, menulis di blog, saya pernah mengikuti beberapa kompetisi blog dan mendapatkan hadiah dari panitia atau penyelenggara. Hadiah tersebut juga merupakan bentuk dari sebuah penghargaan atas sebuah karya. Sebagaimana halnya Sodexo yang mengadakan blog contest dengan hadiah berupa Voucher Belanja Sodexo dengan total nilai jutaan rupiah. Hadiah tersebut merupakan bentuk penghargaan atas karya bagi para pemenang blog contest nantinya. Selanjutnya, Voucher Belanja Sodexo tersebut dapat dibelanjakan di 269 merchant dan 14.1170 outlet yang tersebar di Indonesia. Untuk mengetahui seluruh merchant dan outlet tersebut sila cek di Merchant Sodexo.

Bagi saya pribadi, sebuah penghargaan tak harus hadir dalam bentuk materi. Sebuah penghargaan juga bisa berwujud dalam bentuk tulisan, ucapan, atau perbuatan. Seperti apa yang saya alami hari ini, saya merasakan penghargaan yang diberikan orang lain atas diri saya dalam bentuk ucapan dan tulisan.

Hari ini, saya mendapatkan tugas menjadi pengajar atau pembicara dalam sebuah kegiatan pendidikan dan pelatihan di Bogor. Sesaat sebelum berangkat dari kantor, saya mendapatkan e-mail notifikasi dari facebook bahwa ada yang menyebut akun facebook saya dalam sebuah komentar.

“Kalo saya suka ke tmptnya bang Rifki Jampang.” Begitu isi e-mail notifikasi tersebut.

Penasaran mengapa nama saya disebut, saya pun membuka lebih lanjut notifikasi tersebut. Beberapa saat kemudian, saya melihat sebuah komentar sebagaimana isi e-mail dalam sebuah kiriman yang menyematkan sebuah blog post yang menginformasikan nama-nama blog yang sering dikunjungi si pembuat blog post. Tak ada nama blog saya di sana.

Namun, dengan membaca isi komentar yang menyebutkan nama saya, saya merasa bahwa blog saya tak kalah keren dibandingkan blog-blog yang tertulis di dalam blog post tersebut. Bagi saya, satu kalimat dalam komentar tersebut adalah sebuah penghargaan yang memberikan kesan sangat mendalam.

Di siang harinya, ketika materi sudah saya sampaikan dan jam pelajaran sudah selesai, salah seorang peserta perempuan menghampiri saya dan bertanya, “Mas Rifki, Rifki Jampang?”

Saya langsung menjawab, “Iya!”

“Dapat salam dari suami saya,” sambungnya sambil menyebutkan nama suaminya.

Saya mengenal nama sang suami meski belum pernah bertatap muka secara langsung.

“Saya sering baca tulisan Mas di Shalahuddin (nama forum diskusi internal instansi tempat saya bekerja). Di blog juga. Pernah menulis tentang proses kelahiran anak, kan?”

Mendengar kalimat-kalimat tersebut, ada rasa bangga mengalir di dalam dada saya atas pengakuan tersebut. Pengakuan yang saya rasakan sebagai sebuah penghargaan atas coretan-coretan alakadarnya yang saya publikasikan di blog dan saya share di forum diskusi. Lagi-lagi saya mendapatkan penghargaan tak berwujud, namun begitu nyata terasa.

Di rumah, Minyu, istri saya, sering memasak untuk sarapan dan bekal untuk saya bawa ke kantor. Sebenarnya, memasak atau menyiapkan makanan untuk suami, bukanlah kewajiban dari seorang istri. Namun Minyu tetap melakukannya. Insya Allah apa yang dilakukan Minyu menjadi ladang pahala baginya. Sementara yang saya rasakan, apa yang dilakukan Minyu adalah salah satu bentuk penghargaan dirinya atas diri saya sebagai seorang suami.

Saya pun membalas penghargaan Minyu tersebut dengan penghargaan dalam bentuk yang lain. Setelah menghabiskan sarapan dan memasukkan bekal ke dalam tas, sesaat sebelum berangkat ke kantor, saya sempatkan untuk memberikan kecupan di beberapa bagian wajah Minyu sambil berucap, “Terima kasih atas sarapan dan bekalnya!”

*****

Sebab penghargaan adalah kebutuhan setiap orang, maka keberadaannya, menurut saya, menjadi sangat penting. Sadar atau tidak, setiap orang ingin dihargai dan merasa senang jika dihargai demi kenyamanan hati, pikiran, dan jiwanya.

Ketika orang lain memberikan saya penghargaan dalam bentuk apapun, saya merasa bahwa diri saya ada dan dianggap. Ada kebanggan yang muncul. Kebanggan, bukan kesombongan. Keduanya tentu saja sangat berbeda. Kebanggaan tersebut ibarat tiang yang menopang wajah saya untuk tetap menghadap lurus ke depan, yang menopang semangat saya untuk tetap optimis tentang masa depan, sekaligus pengingat untuk selalu bersyukur atas apa yang saya miliki.

Sebuah penghargaan terasa lebih penting di dalam lingkungan terkecil masyarakat, yaitu keluarga. Di masa awal, keluarga dibentuk oleh dua sosok pribadi yang berbeda. Seorang suami dan seorang istri. Keduanya memiliki peran yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama. Tujuan yang ingin diraih oleh keduanya ketika memutuskan untuk hidup sebagai pasangan suami-istri.

Perbedaan yang dimiliki oleh dua pribadi tak mungkin bisa hilang ketika keduanya menjadi suami dan istri. Sebab pernikahan dan keluarga tidak bertujuan untuk menghilangkan apa yang dimiliki seorang lelaki atau perempuan sebelum keduanya menikah. Tetapi mengatur agara segala perbedaan tersebut bisa berjalan seiring serta mengurangi gesekan-gesekan yang terjadi.

Karenanya, sikap saling menghargai perbedaan yang ada di antara keduanya harus dimiliki oleh suami dan istri. Jika keduanya sudah mampu saling menghargai, maka ketika buah cinta keduanya lahir, sikap saling menghargai tersebut bisa diwariskan kepada sang anak.

Ketika seluruh anggota keluarga saling menghargai satu sama lain, maka kehidupan rumah tangga akan harmonis. Sebuah kondisi yang bisa ditularkan ke dalam lingkup kehidupan yang lebih luas, yaitu masyarakat di sekitar.

Dalam kehidupan bermasyarakat, ketika muncul keinginan untuk dihargai orang lain, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghargai diri sendiri terlebih dahulu. Sebab bagaimana mungkin orang lain mau menghargai diri kita sementara kita menganggap rendah diri sendiri?

Selanjutnya, dikarenakan manusia adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi satu sama lain, maka kita harus menghargai orang lain. Setelah aksi yang kita lakukan, maka akan muncul reaksi dari orang lain kepada diri kita. Penghargaan dibalas dengan penghargaan. Kebaikan berbalas kebaikan. Di sini berlaku pepatah, siapa yang menanam, dia akan menuai.

Ketika setiap anggota masyarakat saling menghargai satu sama lain, maka kehidupan sosial akan menjadi tenteram dan damai.

Mungkin, saat ini, negeri Indonesia masih mengalami krisis penghargaan, baik penghargaan antar pribadi, lebih-lebih lagi penghargaan antar kelompok. Baik di dalam lingkup masyarakat terkecil, yaitu kelurga, hingga ke lingkup paling besar yakni satu negara. Akibatnya, terjadilah saling ejek, saling benci, saling mencari kesalahan, saling menyombongkan satu sama lain.

Mungkin, apa yang terjadi di negeri ini saat ini, bermula dari krisis penghargaan di dalam keluarga. Krisis tersebut kemudian menyatu dan bertambah besar di dalam masyarakat dan berlanjut ke lingkup negeri.

Semoga semangat hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-71 ini, menyadarkan seluruh keluarga dan masyarakatnya tentang betapa pentingnya sikap saling menghargai. Semoga seluruh keluarga dan setiap anggota masyarakat bisa belajar untuk menghargai satu sama lain dengan landasan pikiran yang cerdas dan hati yang ikhlas.

Sikap saling menghargai di antara anggota keluarga akan menciptakan sebuah keluarga yang harmonis. Keluarga-keluarha yang harmonis akan membentuk sebuah masyarakat yang tenteram dan damai. Masyarakat yang tenteram dan damai, akan mewujudkan sebuah negeri yang aman dan nyaman. Semoga itulah yang segera menjadi nyata di Indonesia tercinta ini.

 


Tulisan Terkait Lainnya :

12 thoughts on “Penghargaan : Harmonisasi Keluarga Untuk Keutuhan Negeri

  1. zilko Agustus 17, 2016 / 00:23

    Hehehe, setuju! Walaupun bukan kebutuhan primer, bentuk penghargaan itu memang penting ya. Senang saja rasanya hasil kerja keras kita dihargai🙂 .

    • jampang Agustus 18, 2016 / 08:21

      iya, mas. betul😀

  2. ayanapunya Agustus 17, 2016 / 04:06

    Ciee mas rifki sekarang terkenal😀

    • jampang Agustus 18, 2016 / 08:20

      😀
      ya sama satu instansi masa nggak kenal

  3. pradilamaulia Agustus 17, 2016 / 19:57

    stuju sekali pak, Apresiasi memang sangat penting
    Terkadang bisa jadi kecil bagi yg memberikan apresiasi, tapi begitu berharga bagi yg mendapatkannya

    Oya pak, nama jampang di nama bapak mirip tempat saya bekerja,
    Jampang, parung

    Salam kenal pak 😁

    • jampang Agustus 18, 2016 / 08:20

      terima kasih, mbak.
      iyah, ada daerah yang namanya jampang. hanya saja nama ini saya gunakan karena dulu sering lihat nama jampang di poskota di bagian cerita silatnya😀

      • pradilamaulia Agustus 18, 2016 / 08:26

        Wah ternyata bang jampang memang terkenal sebagai pesilat yaa 😁

      • jampang Agustus 18, 2016 / 08:28

        ya nama jampang itu…. bukan saya😀

  4. rizzaumami Agustus 18, 2016 / 11:01

    Wah, bang rifki sudah keliatan cakep jadi ustadz, penjabarannya enak diikuti.

    • jampang Agustus 18, 2016 / 16:09

      aamiinin aje deh yah😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s