Kemacetan dan Hadiah yang Tertukar

kemacetan dan hadiah buku

Jika Anda sudah pernah membaca sebuah coretan di blog ini yang berjudul “Apakah yang Kau Ucapkan Adalah Apa yang Kau Inginkan?”, maka coretan ini adalah versi kisah nyatanya. Saya mengalaminya beberapa waktu yang lalu.

Kemacetan

Saya dan seorang rekan baru saja kembali dari sebuah tempat kursus yang berlokasi di daerah Setiabudi, Jakarta Selatan. Dari tempat kursus, kami di antar dengan menggunakan mobil ke kantor. Dalam perjalanan, kami melihat langit yang sudah mendung. Hari bakal hujan. Kemungkinan lebat seperti beberapa hari sebelumnya.

Tiba di kantor, kamu langsung masuk ke dalam lift untuk naik ke ruang kerja. Terjadi sedikit obrolan selama berada di dalam lift yang membawa kami dari lantai satu ke lantai lima.

“Hujan nih!” kira-kira begitu komentar rekan saya.

“Pastinya bakal macet!” saya menimpali dengan kalimat yang bunyinya seperti itu.

Beberapa saat kemudian, hujan pun turun. Lebat.

Ketika jam kerja selesai, saya segera meninggalkan ruangan untuk pulang ke rumah. Setelah mengambil sepeda motor yang diparkir di basement, saya keluar gedung menuju Jalan Gatot Subroto.

Sebelum saya tiba di pintu keluar, saya sudah melihat banyak mobil para pegawai yang sedang antri untuk keluar gedung. Di depan sana, Jalan Gatot Subroto dalam kondisi macet. Semua kendaraan berjalan dengan pergerakan yang sangat lambat. Bahkan cenderung berhenti. Ada teman yang mengistilahkan kondisi yang demikian itu sebagai kegiatan parkir berjama’ah.

Sedikit demi sedikit, sepeda motor saya bisa maju. Hingga akhirnya terlepas dari kemacetan setelah melewati pintu masuk tol Semanggi. Ternyata, yang menjadi penyebabnya adalah panjangnya antrian mobil yang akan masuk tol. Sebab mobil-mobil yang berasal dari sisi kiri jalan harus memotong arus kendaraan agar bisa masuk ke dalam antrian di pintu tol.

Terlepas dari penyebab kemacetan tersebut, saya jadi berpikir, mungkinkah karena kalimat yang terlontar di dalam lift beberapa waktu sebelumnya menjadi kenyataan?

Berdasarkan pengalaman, sepertinya tak hanya saya seorang yang memberikan komentar atau kalimat bahwa setelah turun hujan maka jalanan akan macet. Banyak. Apakah mungkin, kalimat-kalimat atau komentar-komentar negatif yang diucapkan banyak orang tersebut menjadi kenyataan terjadinya kemacetan? Mungkinkah semesta mendukung ‘doa-doa’ yang saya dan sekian banyak orang ucapkan saat itu?

Wallaahu a’lam.

Hadiah yang Tertukar

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti sebuah lomba tentang kisah handphone pertama. Hadiahnya lumayan. Beberapa buah buku. Saya lalu membuat coretan yang berkisah handphone Nokia 2100 yang merupakan hanphone pertama saya dengan judul “Handphone Pertama, Beginilah Kisah dan Riwayatnya” .

Pada saat mengikuti lomba tersebut, ada kekhawatiran kalau saya menang (kekhawatiran yang aneh). Di pengumuman lomba, ada sebuah permintaan dari penyelenggara bahwa pemenang yang mendapatkan hadiah novel diharapkan untuk membuat review di blog. Saya khawatir karena saya tidak bisa membuat review sebuah buku. Pernah mencoba tetapi hasilnya tidak bagus. Jadinya, keinginan saya saat itu adalah, saya berharap menang tetapi tidak ingin mendapatkan hadiah novel agar saya tidak memiliki tanggung jawab untuk membuat review.

Lalu apa yang terjadi kemudian?

Alhamdulillah, coretan yang saya ikutsertakan dalam lomba berhasil menjadi pemenang kedua dan berhak mendapatkan hadiah berupa sebuah novel berjudul “Yang Tersimpan di Sudut Hati” dan buku berjudul “11 Warna Pelangi Cinta”. Itu artinya, saya punya tanggung jawab untuk membuat sebuah review. Hiks!

Sebelum paket hadiah saya terima, pihak penyelenggara mengirimkan saya pesan melalui inbox di FB yang isinya sebuah permintaan maaf karena hadiah yang dikirimkan untuk saya tertukar dengan hadiah yang seharusnya dikirim kepada pemenang lain.

Ketika paket hadiah tiba di rumah dan saya buka, isinya adalah dua buah buku yang berjudul “The Davincka Code” dan “11 Warna Pelangi Cinta” yang sejatinya menjadi hak pemenang kelima.

Sepertinya, apa yang saya inginkan menjadi kenyataan. Saya ingin menang lomba, tetapi tak ingin mendapatkan hadiah novel karena tidak bisa membuat review.

Sekilas saya merasa senang karena tidak ada beban. Namun ada juga perasaan menyesal. Kalau saya tidak berani menerima permintaan pihak penyelenggara, bagaimana saya mau belajar untuk membuat review sebuah buku?

Mungkin saya harus mengajukan pertanyaan kepada diri saya sendiri terkait dengan kejadian yang saya alami, “Apakah yang Kau Ucapkan Adalah Apa yang Kau Inginkan?”


Baca Juga seri Pelangi Kehidupan Lainnya :

20 respons untuk ‘Kemacetan dan Hadiah yang Tertukar

  1. ayanapunya Juli 2, 2014 / 10:10

    dulu waktu sesi wawancara di kantor sekarang saya bilang kalau saya pengen banget bisa benar-benar jadi perencana. alhamdulillah di kerjaan sekarang saya ditempatkan di divisi perencana 🙂
    jadi mana review bukunya nih, mas?

    • jampang Juli 2, 2014 / 10:12

      berarti ucapan itu berdampak dahsyat yah.

      kan nggak dapat novel, jadinya nggak bikin review 😀

      • ayanapunya Juli 2, 2014 / 10:19

        oo yang direview harus novel, yak? 😀

      • jampang Juli 2, 2014 / 10:32

        yup. yang saya terima bukan novel atau setidaknya bukan buku yang harus direview

        *aman*

        😀

  2. rianamaku Juli 2, 2014 / 11:34

    Selamat mas..
    Ria loe belum pernah menang lomba hiks..
    wah aku pernah baca
    “The Davincka Code” bgus malah udah di film kan kok..

    • jampang Juli 2, 2014 / 11:40

      terima kasih, mbak.
      udah difilmin?
      wah… say abaru tahu. belum saya baca soalnya 😀

  3. Dyah Sujiati Juli 2, 2014 / 18:32

    Kirain mau nulis : macet adalah kita
    Wakakak

    • jampang Juli 3, 2014 / 04:39

      Kita?
      Maksudnya… Aku dan kamu? 😛

    • jampang Juli 3, 2014 / 04:35

      Hukum apa, uni? Bisa dijelasin sesikit atau banyaj maksudnya… Terima kasih.

  4. aqied Juli 2, 2014 / 23:02

    Hujan dan Macet ya.
    Kalo disini, macetnya setelah hujan

    • jampang Juli 3, 2014 / 04:36

      Sama donk mbak, macetnya setelah hujan kok 😀

  5. pritakusumaningsih Juli 2, 2014 / 23:42

    Yang jelas, kalau ngomong harus yang positif. Tidak boleh black campaign *lho!*

  6. pinkvnie Juli 2, 2014 / 23:58

    Habis hujan terbitlah macet … 😀

    • jampang Juli 3, 2014 / 04:37

      😀

      Jd enaknya pulang pas hujan aja yah

  7. Purnomo Jr Juli 3, 2014 / 00:04

    belum lama sy juga pernah lewat gatot
    emang totall macet nya ^^

    • jampang Juli 3, 2014 / 04:38

      Di lain waktu lancar. Tapi beda lagi di waktu lain 😀

  8. Rivanlee Juli 4, 2014 / 05:53

    menarik nih,
    1. ada yang diucapkan berdasarkan pengalaman
    2. ada yang diucapkan berdasar spekulasi(belum mengalami)

    kalau menurut saya, yang berdasar pengalaman ini, wajar-wajar saja sih dikatakan, tanpa terlepas dari pembuktiannya

    yang kedua ini yang kadang menjadi beban tersendiri, sehingga menjadi pikiran(yang selalu dipikirin), ini yang menurut saya semesta mendukung apa yang dipikirkannya..

    *Tapi kok kalo mikirin yang baik2 lebih lama (kdg gak terjadi), daripada mikir kemungkinan buruknya yak*

    wallahualam

    • jampang Juli 4, 2014 / 07:43

      *Tapi kok kalo mikirin yang baik2 lebih lama (kdg gak terjadi), daripada mikir kemungkinan buruknya yak* —> ya setidaknya bisa lebih memberikan ketenangan daripada kekhawatiran 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s