Bukan Kisah Kasih Di Sekolah : The First Time

firstBeberapa kejadian yang saya alami untuk pertama kali yang terjadi ketika saya duduk di bangku sekolah menengah umum.

Ikut Pesantren Kilat

Ya, di SMU adalah kali pertama saya mengikuti kegiatan pesantren kilat di Bulan Ramadhan. Panitianya adalah para senior anggota Rohis SMU 29 Jakarta. Selama dua atau tiga hari saya mengikuti kegiatan tersebut. Makan sahur dan buka puasa bersama teman-teman sekolah. Tidur dalam satu ruangan bersama di atas meja tulis yang digabungkan menjadi satu dan dilapisi tikar, tanpa guling dan bantal tentunya. Shalat tarawih pun dilakukan bersama-sama. Cuma karena guru agamanya berbeda pandangan, jadilah pelaksanaan sholatnya berbeda-beda. Malam ini dilakukan dengan empat empat rakaat, esoknya dua dua. Di salah satu acara tersebut, saya mendapatkan sebuah hadiah Al-Quran dengan terjemahan yang belum pernah saya punya sebelumnya.

Dipalak

Turun dari Mikrolet M-09, saya melanjutkan ke sekolah dengan berjalan kaki melewati para pedagang pasar. Belum ada seratus langkah dari tempat saya turun, tiba-tiba seorang pemuda mendekati saya sambil menodongkan sebuah pisau dari dalam kausnya dan meminta jam tangan saya dengan paksa.

“Sini jamnya atau gue tusuk!” kira-kira itulah kalimat yang terlontar dari mulutnya.

Karena ketakutan, lidah saya kaku tidak dapat bergerak. Padahal, seandainya saya berteriak mungkin ada orang yang menolong saya karena di sekeliling banyak orang. Tapi hal tersebut tidak dapat saya lakukan. Jam tangan saya pun melayang.

Nilai Ulangan Terjelek

Hari itu ujian matematika. Bu Ani, guru matematika kelas 1-6 memberikan empat soal seputar bilangan pangkat. Karena kurang persiapan, pusing saya mengerjakannya. Beberapa hari kemudian, hasil ulangan pun diberikan. Nilai saya adalah 2,5. Artinya dari empat soal, hanya satu jawaban yang benar. Ternyata bukan saya seorang, sebagian besar nilainya enggak jauh beda, hanya beberapa orang yang mendapat nilai di atas lima. Ujian ulangan pun dilakukan. Nilai saya bertambah, jadi lima. Hiks!

Nilai Lima Di Raport

Sejak SD dan SMP, saya belum pernah mendapat nilai lima, paling rendah nilai saya adalah enam. Tapi, di kelas satu SMU, saya mendapat ‘anugerah’ dengan nilai lima untuk pelajaran Kimia. Namin di buku raport, nilai iu tidak ditulis oleh Wali Kelas saya, Ibu Ningrum. Mungkin tidak ada tinta merah atau tidak boleh ada warna merah, Wallahu a’lam. Yang jelas, nilai kimia saya kosong.

Piala Cerdas Cermat

Di kelas tiga, saya dan beberapa temen mengikuti lomba cerdas-cermat seputar pengetahuan Islam se-Jakarta Selatan, yang dilaksanakan di kampus UMJ, Cireundeu. Saat babak awal, tim kami bermain lepas tanpa beban, karena memang tidak ada target untuk menang. Kenyataannya, kami menang dan masuk ke babak final.

Di babak tersebut, tim kami malah tampil tegang. Akibatnya terjadi sebuah kesalahan di babak rebutan. Ketika ditanyakan mengenai bacaan sujud syukur, teman pendamping saya yang memencet tombol langsung menjawab dengan bacaan sujud sahwi. Otomatis nilai kami dikurangi.

Hasil pertandingan, kami juara kedua. Sebuah piala dan uang tunai menjadi hak kami. Alhamdulillah.

Ikut Lomba Nasyid

Di babak awal, di mana setiap tim mengirimkan hasil rekaman suara dalam bentuk kaset, tim kami lolos. Di babak selanjutnya, setiap tim harus tampil langsung di depan juri yang merupakan personel kelompok nasyid Izzatul Islam. Lokasinya di salah satu gedung STEKPI Kalibata. Karena grogi, di tengah penampilan, satu tim kami kompak lupa syair nasyid. Hasilnya sudah pasti, gagal ke babak selanjutnya. Setidaknya sebuah pengalaman sudah kami punya.

Tulisan Terkait Lainnya :

10 thoughts on “Bukan Kisah Kasih Di Sekolah : The First Time

  1. nawhi Agustus 31, 2010 / 00:00

    paling seru emang sahur n buka bersama di sekolah, terasa banget kebersamaannya. meski makannya mungkin seadanya tapi tetep terasa nikmat.

  2. jampang Agustus 31, 2010 / 00:00

    nawhi said: paling seru emang sahur n buka bersama di sekolah, terasa banget kebersamaannya. meski makannya mungkin seadanya tapi tetep terasa nikmat.

    waktu kegiatan tadabbur alam, malahan makan nasi goreng satu nampan rame2.

  3. nawhi Agustus 31, 2010 / 00:00

    jampang said: malahan makan nasi goreng satu nampan rame2.

    oh saya juga pernah mas waktu kegiatan ramadhan di pondok makan satu nampan gitu rame2. yaa awalnya sih agk risih tapi berhubung laper ya udah wes santap aja wkwkwkwk

  4. jampang Agustus 31, 2010 / 00:00

    nawhi said: oh saya juga pernah mas waktu kegiatan ramadhan di pondok makan satu nampan gitu rame2.

    ada kebiasaan di betawi, yang makannya dengan cari begitu nasinya adalah nasi kebuli.

  5. ydiani Agustus 31, 2010 / 00:00

    yang lomba nasyid kebayang tuh groginya jadi lupa 😀

  6. jampang September 1, 2010 / 00:00

    ydiani said: yang lomba nasyid kebayang tuh groginya jadi lupa 😀

    berhenti tiba2 di tengahtengah, kompak lagi

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s