Di Balik Asmara

di balik asmara
di balik asmara

Sal, entah kenapa beberapa hari ini, di pikiranku selalu bergelayut kata “asmara”. Apakah karena kita sedang dilanda asmara akhir-akhir ini? Sepertinya tidak, karena kuyakin sepanjang perjalanan waktu yang kita lalui bersama, ada jejak-jejak asmara di detiap detiknya. Mungkin penyebabnya adalah karena aku menemukan sesuatu di balik asmara itu.

Bukan, bukan seperti cerita di balik lagu yang berjudul asmara hasil pencarianku di internet. Lirik lagu itu menyimpan duka yang mendalam, tetapi yang kurasakan adalah suka yang semoga tak berkesudahan.

asmara [n] perasaan senang kpd lain jenis (kelamin); (rasa) cinta.

Bukankah itu yang kita rasakan sesaat setelah kita dipersatukan oleh dua buah kalimat yang terucap dari mulut ayahmu dan kujawab langsung seketika?

hadirmu dalam taman hati
ceriakan hari
sejukkan sukma
indahkan dunia
lenyapkan gelisah
hapuskan gundah

hadirmu dalam cinta
tuk menggapai bahagia
tuk meraih cita
sebagai pelipur lara
sebagai pengobat luka
sebagai penghibur duka

hadirmu dalam sanubari
tumbuh berseri
pelepas rindu
yang terbelenggu
menyatukan rasa
dalam asmara

rasa [n] (1) tanggapan indra thd rangsangan saraf, spt manis, pahit, masam thd indra pengecap, atau panas, dingin, nyeri thd indra perasa; (4) tanggapan hati thd sesuatu (indra)

Ada getaran yang kurasakan ketika menggenggam jemarimu di pelaminan saat itu. Sementara rasa gugup dan grogi menyelimuti diriku selama perjalanan dari rumahku menuju rumahmu dan sesaat menjelang sebuah janji berat kuucapkan.

ketika sedikit nafas tersisa
terhambur untuk yang tercinta
saat asa sirna ditelan masa
seolah jasad tanpa nyawa

hangatnya senyuman
lembutnya bisikan
menggoda hati nan kesepian
yang sedang menanti kekasih yang dirindukan

setelah badai menerjang
gemuruh hati bergelombang
akhirnya menjadi tenang
karena kabar musafir telah datang

hasrat tuk bersua semakin menjadi
karena kerinduan belum terobati
seakan tak pernah padam bara di hati
kecuali ikatan jiwa telah terpatri

ketika saat itu tiba
dua insan merajut asa
di pelaminan duduk berdua
saling berkasih mesra

ketika saat itu tiba
dua insan memupuk rasa
menyatukan hati, jiwa, dan raga
tuk meraih cita yang didamba

Itulah gambaranku tentang rasa yang kurasa. Terhadapmu.

Ketahuilah, aku tak pandai mengucap kata untuk mengungkap rasa. Karenanya Aku memintamu untuk memahami bahwa di kala jemariku menggenggam jemarimu, ada rasa cinta yang mengalir. Di setiap belaian tanganku di rambutmu ada rasa sayang yang terukir. Di setiap senyumanku ada ungkapan kebahagiaanku hidup bersamamu yang tak sanggup terucap melalui bibir. Entah rasa apa lagi yang belum terpikir olehku. Yang kutahu, sejak bersamamu semua, keindahan rasa itu terlahir.

sama [a] (1) serupa (halnya, keadaannya, dsb), tidak berbeda; tidak berlainan.

Malam itu adalah kali pertama kita makan malam di luar. Seleramu sama denganku, lebih memilih warung tenda dengan deru kendaraan sebagai musik pengiring daripada food court dengan fasilitas wifinya. Sang pelayan memberikan selembar kertas yang sudah di laminating yang berisi daftar menu. Setelah memilih jenis makanan akan kita santap, sang pelayan pun bertanya kita akan memesan minum apa.

“Es kelapa!”

Jawab kita bersamaan. Lalu kita pun tertawa. Ya, kita menertawakan kesamaan selera masing-masing yang baru kita sadari malam itu. Tentu saja tak semuanya. Mungkin akan terasa aneh jika semua kebiasaan dan kesukaan kita adalah sama. Yang membuatnya berwarna-warni sehingga menjadi indah adalah ketika di antara kesamaan itu adalah adanya perbedaan.

Setelah menerima jawaban yang sama, pelayan itu kembali bertanya dengan memberikan dua jenis pilihan. Aku menjawab “gula merah”, sementara dirimu berkata “gula putih, jangan terlalu banyak”. Dengan perbedaan rasa itu, suasana pun menjadi lebih romantis karena kita bisa berbagi minuman satu sama lain.

Namun sebelum kita menemukan banyak persamaan di antara sekian perbedaan, kita telah menyepakati bahwa kita memiliki persepsi yang sama dan tujuan yang sama dari apa yang kita mulai bersama-sama.

mara (1) tampil ke hadapan, maju, datang (ke suatu tempat)

Setelah ada kesamaan persepsi, selangkah demi selangkah kita mara menuju masa depan dengan harapan bisa menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik. Aku jadi teringat dengan sebuah kalimat yang diucapkan oleh seorang tokoh dalam film yang pernah kutonton. Sang tokoh memberikan jawaban atas pertanyaan sahabatnya mengenai pilihan di antara dua orang yang akan dijadikan pendamping hidupnya dengan kalimat, “Jangan memilih yang terbaik di antara keduanya. Tapi pilihlah yang bisa menjadikan dirimu menjadi lebih baik”. Dengan kesamaan tujuan, setapak demi setapak kita mara meraih cita-cita yang ingin digapai oleh semua orang. Kebahagiaan dunia dan akhirat.

Tak apa untuk berdiam untuk rehat sejenak. Tidak mengapa mundur sejengkal untuk mengambil pelajaran atas apa yang kita alami. Tapi kita tidak boleh menyerah. Tetap melangkah. Mari mara menuju cita-cita kita.

asa [n] harap(an); semangat

Ketika kita terjatuh lalu terluka, ketika kita terbentur lalu memar di sebagian tubuh, ketika kita terhalang lalu bingung mencari jalan, ada satu hal yang membuat kita mampu bertahan. Asa. Harapan.

Ada asa yang timbul ketika menyadari bahwa apapun masalah yang kita alami, bersamanya datang sebuah solusi. Ada harapan yang datang ketika menyadari bahwa musibah bisa menjadi anugerah, tergantung dari sisi mana kita melihatnya.

Asa itu pun semakin kuat manakala kita memahami bahwa Allah tidak memberikan beban di luar kemampuan hamba-Nya.

asrama [n] bangunan tempat tinggal bagi kelompok orang untuk sementara waktu, terdiri atas sejumlah kamar, dan dipimpin oleh seorang kepala asrama

Sepertinya, aku ditakdirkan untuk menjadi pemimpin, sementara dirimu adalah wakilku di dalam membina rumah tangga. Memang, kita belum memiliki rumah yang memiliki beberapa kamar. Rumah yang kita tinggali saat ini dan mungkin beberapa waktu ke depan hanyalah sebuah rumah yang kita sewa dari pemiliknya. Insya Allah, ini hanya sementara. Ada harapan dan keinginanku bahwa suatu saat kita akan memiliki rumah yang sebenarnya. Rumah yang menjadi milik kita dan kita menetap di dalamnya.

Namun demikian, rumah yang sekarang kita tinggali dan mungkin rumah yang nantinya akan kita miliki tetaplah rumah yang bersifat sementara. Ada sebuah rumah yang dijanjikan yang sifatnya kekal lagi abadi. Ke sanalah tujuan kita yang sebenarnya.

samar [a] (1) kabur; tidak kelihatan nyata; agak gelap. (2) sayup-sayup (tt pendengaran). (3) tersembunyi.

Kau tahu, setiap orang, selama dirinya masih bernapas maka akan selalu dihinggapi masalah, sekecil apa pun. Bagi sebagian orang, masalah yang semula kecil bisa menjadi besar. Sementara bagi sebagian lain, masalah yang besar bisa menjadi kecil. Semuanya tergantung dari bagaimana seseorang merespon masalah yang dihadapinya tersebut.

Menikah, bukan berarti tanpa masalah. Hanya saja, kita bisa menyamarkan masalah tersebut. Dengan kebersamaan, dengan asa yang kita miliki, kita bisa menyamarkan masalah tersebut menjadi sebuah keindahan. Bahkan bisa jadi, tak hanya menyamarkan masalah, tetapi juga menyelesaikan permasalahan tersebut dengan lebih baik dan lebih cepat.

THABTO. Kamu pernah mendengar kata itu? Semula aku tidak mengerti dengan apa maksud kata itu. Kata itu pertama kali aku dengar ketika menyaksikan sebuah film di mana tokoh jagoannya terdiri dari lima orang dan masing-masing memiliki pesawat yang bisa bergabung dan memebntuk robot raksasa untuk membasmi monster yang mengganggu penduduk bumi. THABTO, Two Heads Are Better Than One.

Sendiri mungkin diriku tak mampu. Sendiri mungkin dirimu tak bisa. Namun ketika kita menghadapinya bersama, insya Allah akan ada kemampuan dan tenaga yang lebih besar untuk menghadapi masalah hingga masalah itu tersamar kemudian lenyap.

wahai bidadari
yang turun dari langit ke bumi
namun bukan hanya sekedar untuk mandi
seperti kisah di sebuah legenda yang tidak pasti
ketahuilah bahwa sekarang kau tidak sendiri
telah hadir seorang pendamping di sisi
yang akan berusaha semampu diri
untuk selalu menemani

yaa zawji
kau bukanlah seorang pangeran dalam kisah fiksi
yang menikah dengan seorang putri
dan hidup berbahagia di pusat negeri
namun ketahuilah bahwa sekarang kau tidak sendiri
telah hadir seorang pendamping di sisi
yang akan berusaha segenap hati
untuk selalu menemani

wahai bidadari
suatu ketika mungkin kau bergundah hati
lantas bersedih dan mengalirkan air mata di pipi
saat itu mungkin akan kau sadari
bahwa dirimu tak lagi sendiri
karena telah hadir seorang pendamping di sisi
yang akan menghapus duka tak terperi
dan menggantinya dengan senyum berseri

yaa zawji
bila suatu masa kau diselimuti mendung tak bertepi
lantas kau berdiam diri dan menanggungnya sendiri
saat itu mungkin akan kau sadari
bahwa dirimu tak lagi sendiri
karena seseorang telah berdiri di sisi
yang siap meniup awam itu pergi
dan menggantinya dengan ceria hari

wahai bidadari
suatu ketika mungkin bahagia meliputi hati
lantas tawa canda menghiasi
saat itu kuingin engkau menyadari
bahwa dirimu tak lagi sendiri
karena telah hadir seorang pendamping di sisi
yang berharap kau akan berbagi
dan memanjatkan syukur atas apa yang telah diberi

yaa zawji
bila suatu masa kau berada di sebuah taman nan asri
lantas kau pun menari dan menyanyi bersama kupukupu
yang terbang ke sana ke mari
saat itu kuingin engkau menyadari
bahwa dirimu tak lagi sendiri
karena telah hadir seorang pendamping di sisi
yang berharap akan kau ajak melangkahkan kaki
menikmati bunga-bunga harum mewangi

Asmara. Kuberharap, kuyakin dirimu juga demikian, agar keluarga kita menjadi keluarga asmara. Keluarga yang dinaungi As-sakinah, Al-mawaddah, dan Ar-rahmah.


Seri Samara Lainnya :

10 respons untuk ā€˜Di Balik Asmaraā€™

  1. ysalma November 22, 2014 / 21:19

    Akhirnya, jadi juga šŸ™‚

    • jampang November 23, 2014 / 05:03

      šŸ˜€
      jadi tulisan

  2. dani November 23, 2014 / 02:06

    Aaaw, sepertinya masa depan yang indah terhampar di depan mata bang.. šŸ˜€

    • jampang November 23, 2014 / 05:06

      harus optimis dulu bahwa masa depan itu indah, mas. biar semangat menjalani hidup

      *sok bijak*

    • jampang November 24, 2014 / 07:31

      terima kasih, pak šŸ˜€

  3. gegekrisopras November 23, 2014 / 15:18

    Kirain dijadiin bahan kuis lagi, puitis amat.. hehe bagus mas (y)

    • jampang November 24, 2014 / 07:32

      kalau ada kuis yg temanya ini mungkin saya ikutkan juga, mbak šŸ˜€

      terima kasih

  4. azitafebriani November 24, 2014 / 11:16

    baca ini jadi inget asmara di asrama šŸ˜€

    • jampang November 24, 2014 / 11:24

      ow.. ow.. šŸ˜€

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s