Peluklah Aku!

berpelukanSebelum mengenalku lebih jauh, aku akan memberitahukan sesuatu kepadamu. Bisa jadi sesuatu itu akan merubah sikapmu sebelumnya atau mungkin dirimu tak mempermasalahkannya.

Aku tak banyak bicara. Ungkapan perasaan hatiku banyak kutuangkan melalui tarian jemariku yang bisa kau baca jika kau berkenan.

Aku tak pandai memuji atau merangkai kata-kata romantis yang langsung bisa kuucapkan langsung dihadapanmu. Tapi itu bukan berarti aku tidak bisa mencintaimu atau menyangimu. Hanya saja, mungkin bentuk cinta dan sayangku tidak seperti yang dirimu bayangkan. Entah kelak dirimu akan terbiasa dengan cinta bisu itu, atau diriku yang akan belajar untuk berubah.

Tapi, bukankah mencintai itu artinya mau menerima segala kelebihan dan kekurangan seseorang yang dicintai? Entahlah. Aku sendiri belum tahu jawaban yang pasti tentang apa itu cinta. Atau mungkin kamu berkenan untuk mencari arti cinta itu bersamaku?

Jika kamu bersedia, silahkan kamu lanjutkan bacaanmu ke kalimat-kalimat berikutnya.

Peluklah Aku!

Ya, itu mungkin salah satu permintaanku kepadamu. Apakah kamu suka memeluk atau dipeluk? Aku suka. Ada kehangatan dan energi yang luar biasa dalam sebuah pelukan. Tapi aku tidak bisa melakukannya sendiri. Aku tak bisa memeluk diriku dengan kedua tanganku. Aku membutuhkanmu untuk melakukannya.

Ketika aku duduk terdiam atau mungkin berbaring tanpa kata, lalu kamu melihat ada sungai yang mengalir di sudut kedua mataku, janganlah kau bertanya “Ada apa?” atau “Kenapa kamu menangis?” Cukup beri aku sebuah pelukan sementara waktu hingga sungai itu mengering. Mungkin setelah itu, ada sebuah cerita yang akan kau dengar.

Ketika dirimu melihat mataku dan wajahku memerah dan merasakah tubuhku bergetar karena menahan amarah, janganlah kau bertanya “Ada apa?” atau “Kenapa kamu marah?” Cukup beri aku sebuah pelukan sementara waktu hingga api itu padam dan panasnya menghilang. Mungkin setelah itu, ada sebuah cerita yang akan kau dengar.

Sudikah dirimu melakukannya? Untuk kamu ketahui, aku akan melakukannya untukmu.


Tulisan Terkait Lainnya :

28 respons untuk ‘Peluklah Aku!’

  1. rina Januari 31, 2013 / 13:01

    co cuiitttt banget, paling bisa deh merangkai kata2 puitis begini

    • jampang Januari 31, 2013 / 15:59

      baru bisa merangkai mbak…. belum bisa mengucapkan 😀

  2. Larasati Januari 31, 2013 / 15:41

    aku akan mendengarnya….lewat untaian kata kata mu yg tertuang disini hehehehe siiipp mas Rifky, nice 🙂

    • jampang Januari 31, 2013 / 16:11

      terima kasih sudah sudi mendengarkan…. *uhuk*

      • Larasati Januari 31, 2013 / 16:27

        aku ada buku mas rifky tp belum sempat baca 😦

      • jampang Januari 31, 2013 / 16:44

        oh ya…. buku yang judulnya apa mbak?

      • Larasati Januari 31, 2013 / 16:45

        serak yg kedua, judulnya apa tuh?? hehe

      • jampang Januari 31, 2013 / 17:57

        jejak-jejak yang terserak?

      • Larasati Januari 31, 2013 / 16:46

        apa yg puisi yah?? hahaha aku lupa mas 😀 soalnya numpuk sama buku2 yg dikirim kemarin sama mr moz

      • jampang Januari 31, 2013 / 17:58

        kalau yang di moz cuma ada dua dan bukan buku puisi. satu warna biru judulnya jejak-jejak yang terserak dan satunya lagi novel perempuan berjilbab kuning. itu di sisi kanan jurnal ada gambar cover depannya 😀

      • Larasati Januari 31, 2013 / 18:13

        nanti aku lihat deh mas rifky, udah dalam masuk daftar buku yg kudu kubaca bulan depan soale hehe

      • jampang Januari 31, 2013 / 18:15

        silahkan…. selamat membaca dan semoga bermanfaat 🙂

  3. nfiet Januari 31, 2013 / 21:26

    🙂
    Katanya “Eyang” almarhumah,,, cinta sejati itu memang bisu tidak usah diungkap, cukup dengan perbuatan dan sebuah pelukan. Itu yang terjadi pada beliau hinggal akhir hayat usia pernikahan masuk hampir 60 tahun

    • jampang Februari 1, 2013 / 05:47

      ada yang berpendapat demikian namun tidak semuanya. kira-kira begitu

      • nfiet Februari 1, 2013 / 22:11

        Saya sependapat dengan almarhumah Eyang.
        Sepertinya memang benar, butuh proses panjang dan mungkin penuh dengan tangis bombay untuk mencapai itu semua. Tapi apa yang eyang ajarkan, ada benarnya. Untuk menjadi bidadari di dunia dan di akherat bagi suami tercinta, butuh sebuah ketulusan dan keikhlasan, Yaitu cinta sejati

      • jampang Februari 3, 2013 / 05:52

        setiap orang punya pendapat tentang ini

      • nfiet Februari 3, 2013 / 09:31

        Oh gitu ya Bang?jadi ini adalah teorikah?

      • jampang Februari 4, 2013 / 02:48

        bagi yang belum menjalankan bisa disebut sebagai teori, sedang yang sudah menjalankan bisa disebut sebagai pengalaman

  4. RY Januari 31, 2013 / 22:06

    *colek Pak Rifki via CCTV trus kabuuur

    • jampang Februari 1, 2013 / 05:49

      kan nggak minta dicolek 😛

    • jampang Februari 1, 2013 / 16:55

      uhuyyyyyy 😀

    • jampang Februari 5, 2013 / 03:48

      xixixixixi…..

      kenapa komentar ini sebelumnya masuk ke spam yah?

  5. matahari_terbit Februari 1, 2013 / 20:52

    eciyeeee… buat si eneng ini mah permintaannya
    *uhuk
    hihihi

    • jampang Februari 2, 2013 / 09:01

      eneng yang mana yah?

      xixixixixixixi

  6. Ryan Agustus 13, 2013 / 16:56

    berpelukannnn… *ala teletubbies*

    • jampang Agustus 14, 2013 / 07:37

      😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s