Suara

suara

suara :
[n] (1) bunyi yg dikeluarkan dr mulut manusia (spt pd waktu bercakap-cakap, menyanyi, tertawa, dan menangis): penyanyi itu merdu — nya; (2) bunyi binatang, alat perkakas, dsb: kedengaran — harimau mengaum; — pesawat radio ini agak sember; (3) ucapan (perkataan): hanya — saja, tidak ada buktinya; (4) bunyi bahasa (bunyi ujar): fonem /w/ dl bahasa Belanda tidak sama — nya dng fonem /w/ dl bahasa Indonesia; (5) sesuatu yg dianggap sbg perkataan (untuk melahirkan pikiran, perasaan, dsb): majalah ini merupakan — kaum buruh, bukan — suatu partai; (6) ki pendapat: dl rapat itu — saya tidak diindahkan sama sekali; (7) ki pernyataan (setuju atau tidak): usulnya diterima dng — bulat, semuanya setuju

 

Apa jadinya jika tidak ada satu pun suara di dunia ini? Sepi. Dan pastinya, dua telinga yang kita miliki tidak akan memiliki manfaat sama sekali. Keberadaan aneka suara dan berfungsinya kedua telinga, tentunya menjadikan hidup kita lebih berwarna. Alhamdulillah.

Saat ini, saya bersama Minyu dan Sabiq tinggal di sebuah rumah yang berlokasi di sisi sebuah gang kecil. Jarak antara kamar dengan gang kecil tersebut hanya sekitar satu meter. Kondisi seperti itu mengakibatkan saya, Minyu, dan Sabiq dapat mendengar suara yang ada di luar rumah. Apalagi gang di depan rumah tersebut tergolong hidup. Artinya banyak orang yang hilir-mudik melaluinya. Tak hanya pejalan kaki, para pedagang semisal penjual roti dengan inovasi teriakannya, penjual sate, penjual cobek yang teriakannya terdengar aneh, tukang sol sepatu, tukang vermak, dan sejenisnya, termasuk para pengendara sepeda motor. Kebanyakan di antara mereka pasti akan mengeluarkan suara dalam melakukan aktifitasnya.

Akhir-akhir ini suara sepeda motor yang paling sering mengganggu. Apalagi suara yang berasal dari sepeda motor jenis vespa tua dan sepeda motor yang knalpotnya sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga suara yang dikeluarkan menjadi lebih keras. Belum lagi jika para mengguna sepeda motor tersebut menyalakan atau menggeber sepeda motornya tepat di depan rumah. Salah satu kejadian yang cukup mengganggu adalah ketika pengendara sepeda motor tidak menyalakan mesinnya karena posisi jalan menurun dan ketika tiba di jalan di depan rumah saya yang posisinya datar, sepeda motor tersebut baru dinyalakan.

Mungkin memang ada perubahan. Bukankah perubahan itu selalu ada? Ketika Minyu tinggal di rumah neneknya, jarak antara kamar tidur dengan jalan cukup jauh. Sehingga suara yang ada di jalan tidak terdengar begitu jelas. Terhalang jarak dan tembok. Berbeda dengan kamar yang ditempatinya saat ini bersama saya.

Begitu pula dengan Sabiq. Ketika berada di dalam rahim, dunianya adalah dunia yang tenang. Tak ada suara-suara keras. Namun begitu dia lahir, dunianya beruba drastis. Kedua telinganya akan mendengar berbagai macam suara. Termasuk suara yang cukup keras.

Suara-suara yang keras tersebut ada kalanya menggangu Sabiq yang sedang mengantuk atau bahkan sudah tertidur. Tak jarang, setelah mendengar suara-suara tersebut, Sabi terjaga dan menangis karena kaget.

Sebelum menikah, saya tidak merasa terganggu dengan suara-suara yang bersumber dari mesin sepeda motor yang dipacu oleh pengendaranya atau teriakan dari para pedagang yang melintas di depan rumah. Namun semuanya berubah setelah negeri api menyerang saya menikah dan kelahiran Sabiq. Setelah keduanya hadir di dalam kehidupan saya, ketika keduanya terganggu dengan suara-suara tersebut, saya pun ikut merasa terganggu.

Mudah-mudahan Minyu dan Sabiq akan segera terbiasa dengan kondisi tersebut sebelum saya bisa membelikan rumah yang mungkin lebih baik kondisinya. Rumah yang ada saat ini memang bukanlah rumah impian, tetapi apa yang ada wajib untuk disyukuri.

—o0o—

Pagi tadi, saya melakukan obrolan ringan dengan rekan kerja di kantor. Topiknya adalah seputar jalan yang ada di depan rumah saya yang kondisinya seperti yang sudah saya ceritakan di atas.

Rekan kerja saya tersebut menceritakan tentang kondisi lingkungan di Surabaya. Menurut ceritanya, para pengendara sepeda motor ketika akan melintas di jalan-jalan atau gang-gang kecil di Surabaya, mereka tidak akan menyalakan mesin. Para pengendara itu akan menuntun sepeda motornya hingga ke tempat tujuan. Bahkan, pengguna sepeda pun harus turun dan menuntun sepedanya. Jika mereka tetap mengendarainya, maka hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak sopan.

Sepertinya memang lain padang lain ilalang, lain lubuk ikannya.


Tulisan Terkait Lainnya :

39 thoughts on “Suara

  1. dani Maret 10, 2015 / 13:19

    Wah kasihan sabiq, semoga bisa segera terbiasa ya Bang. Kalo di Surabaya memang ketika lewat gang kecil motor akan dimatikan karena kalau tidak pasti akan diingatkan oleh penghuni di sekitar situ Bangm pas nyampe Jakarta saya kaget ketika tahu motor boleh bebas lewat gang kecil.

    • jampang Maret 10, 2015 / 13:29

      katanya kalau diingatkan masih nggak mau matiin, bakalan disiram air ya, mas?
      😀

      • dani Maret 10, 2015 / 13:30

        Dulu sih iya Bang. Kalo gak disiram air dicegat di depannya dipaksa sampe mau matiin. Dulu saya juga ikutan jagain gak deket rumah. Hihihi.

      • jampang Maret 10, 2015 / 14:58

        tapi kalau saya ngebayangin…. nuntun sepeda motor 100 – 200 meter itu lumayan banget, mas. apalagi ada tanjakan macam di wilayah saya tinggal😀

      • dani Maret 10, 2015 / 15:00

        Risiko yg naik motor Bang kalo di Surabaya. Hihihi.

      • jampang Maret 10, 2015 / 15:40

        😀
        iya, mas.
        tadi waktu ngobrol pagi, teman saya itu ceritain kejadian… ada orang yang main ke surabaya kemudian komentar pas ngeliat orang pada nuntun sepeda motor padahal nggak bermasalah

  2. zilko Maret 10, 2015 / 13:42

    Kebiasaan di Surabaya itu bagus banget ya, sangat pengertian sama penduduk sekitar🙂 .

    • jampang Maret 10, 2015 / 14:59

      iya, mas.
      cuma kalau sebagai pengendara motor seperti saya… kayaknya berat juga buat nuntun sepeda motor sejauh 100-200 meter😀

  3. riemikan Maret 10, 2015 / 14:41

    Kadang2 kita kangen juga lhoo ama suara2 itu disaat udah biasa 😊

    • jampang Maret 10, 2015 / 14:59

      iya mbak. teman saya cerita, biasa tinggal di tempat rame kemudian dapat penugasan di wilayah yang beda…. setelah beberapa lama tinggal, dia itu ngerasa kangen denger suara kanlpot sepeda motor😀

      • riemikan Maret 10, 2015 / 23:58

        Aku juga gt soalnya hehehe

      • jampang Maret 11, 2015 / 07:30

        😀
        berarti sesuatu yang biasa ada lalu hilang, pasti dikangenin yah

      • riemikan Maret 11, 2015 / 20:40

        Pasti 😊

  4. Ryan Maret 10, 2015 / 17:23

    Sama kayak Mba Mikan, mas. Kangen suara mie tek tek tengah malam. Palagi kalau kelaparan. Hahahaha

    Dulu rumah deket sama kereta api mas. Jadi selalu denger dan merasakan getarannya. Hahahah. Lama2 mang biasa sih.

    Moga Sabiq terbiasa mas. Atau gak segera pindah ke rumah impian.

    • jampang Maret 10, 2015 / 20:27

      nggak kebayang kalau deket rel kereta, mas.

      aamiin

      • Ryan Maret 10, 2015 / 20:28

        Awal2 sih berasa banget mas. Tapi setelah bertahun2 ya biasa aja.

  5. Ami Maret 10, 2015 / 17:46

    Kalau daerah dekat rumah saya juga ramai, Bang. Ramai oleh berbagai truk, bus, mobil, dan motor. Biasa di daerah yg ramai, membuat saya harus adaptasi kalau tinggal di daerah yang sepi.

    Agak sulit juga untuk meminta pengertian pengendara motor di sana, ya. Semoga Sabiq terbiasa dengan kehadiran suara-suara itu🙂.

    • jampang Maret 10, 2015 / 20:29

      iya mbak. soalnya dari dulu memang kondisinya seperti ini di lingkungan saya. mungkin dulu jarang yang punya sepeda motor… kalau sekarang, udah banyak yang punya.

      terima kasih doanya, mbak. aamiin

  6. Gara Maret 10, 2015 / 17:51

    Motor dengan knalpot modifikasi itu kadang mengesalkan… apalagi kalau kebetulan rumah si empunya dekat dengan kediaman kita dan memanaskan mesin bermenit-menit adalah pekerjaan rutin… :huhu.

    • jampang Maret 10, 2015 / 20:30

      padahal…. sepeda motor sekarang mesinnya udah nggak perlu dipanasin sekian menit sebelum dipakai. langsung nyalain… pake jalan, cuma jangan langsung tancap gas😀

      • Gara Maret 10, 2015 / 21:08

        Nah saya malah baru tahu yang ini Mas :hehe.
        Saya kira setiap motor harus dipanaskan sekian menit sebelum dipakai.
        Terima kasih infonya! :))

      • jampang Maret 11, 2015 / 04:40

        itu sepeda motor lama, gar. saya lupa baca infonya di mana, mungkin di buku manual sepeda motor atau di web yah

  7. nengwie Maret 10, 2015 / 20:18

    Sepertinya harus kerjasama dengan pak RT/RW bikin pengumuman, matikan mesin motor kalau lewat gang ya…

    • jampang Maret 10, 2015 / 20:31

      kalau aturan itu jadi…. saya bakalan cape juga teh… nuntun motor gede sekian ratus meter😀

      • nengwie Maret 10, 2015 / 20:46

        Naaah apakah suara motor kang Rifki mengganggu para tetangga juga ngga …?? Hehe

      • jampang Maret 11, 2015 / 04:38

        saya usahakan seh nggak, teh. misal, kalau jalan di gang kecil nggak ngebut dan nggak narik gas kenceng2 terus nggak modifikasi knalpot yang macam-macam. cuma apakah para tetangga terganggu dengan motor saya, saya kurang tahu😀

      • nengwie Maret 11, 2015 / 12:16

        Semoga saja tidak menggaggu ya kang…

      • jampang Maret 11, 2015 / 13:36

        mudah-mudahan, teh

  8. ayanapunya Maret 11, 2015 / 07:11

    kalau gang di rumah orang tua saya nggak terlalu ramai sih. trus jalannya juga mulai hancur, jadi motor ga bisa ngebut🙂

    • jampang Maret 11, 2015 / 07:35

      nah… di beberapa bagian gang di dekat rumah akhirnya dibikinin polisi tidur biar pada nggak ngebut.
      cuma bikin deg-degan waktu bawa Minyu pas lagi hamil

  9. Tita Bunda Aisykha Maret 11, 2015 / 10:08

    Kalo nuntun motor pas di gang kecil,,masih beberapa kali dilakukan suamiku bang,,ngga sopan katanya,,apalagi kalo ada orang yg lebih tua duduk di terasnya,,harus turun malah,,cuman kalo yang nongkrong anak2 muda suka dilewatin aja,,

    • jampang Maret 11, 2015 / 10:34

      saya nggak begitu, mbak😀
      di tempat saya nggak ada yg melakukan itu

    • jampang Maret 11, 2015 / 11:51

      di jalan-jalan kecil bandung, gimana kang?

      • tipongtuktuk Maret 12, 2015 / 20:46

        sama ributnya, tak peduli meskipun knalpotnya sudah dimodifikasi hingga suaranya memekakkan telinga …😀

      • jampang Maret 12, 2015 / 20:55

        idem ternyata yah

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s