Mandi Bersama

mandi bersama

Romantis. Sesuatu yang tidak bisa dirasakan oleh seseorang ketika dirinya sendirian dan merasa sendiri. Jika seseorang berada dalam kesendirian, maka bagaimana dirinya bisa mengecap romantisme? Jika seseorang merasa sendirian, maka bagaimana pula dirinya bisa mencicipi dan berbagi romantisme itu? Romantis itu hanya bisa dirasa dalam sebuah kebersamaan.

Kita sudah sering melakukan sesuatu secara bersama-sama. Mungkin ada romantisme di situ.

Kita sarapan dan makan malam bersama. Kadang kita makan siang di luar berdua. Kupikir itu romantis. Saat kita berduaan di dapur, kau memasak, sementara aku mencuci piring, ada romantisme di situ. Ketika kita berada di teras dan sama-sama menjemur pakaian yang baru selesai dicuci, ada romantisme di situ. Kau memeluk pinggangku ketika berada di atas sepeda motor, itu sesuatu yang romantis.

Bukan begitu, sal?

Menurutku, romantis itu tidak selalu berwujud dalam makan malam di restoran mewah. Romantis tidak selalu berbentuk hadiah perhiasan yang mahal. Romantis tidak harus dirasakan dalam sebuah perjalanan ke luar negeri. Sebab romantis juga bisa hadir tanpa biaya yang mahal. Romantis bisa dirasakan di rumah yang sederhana, bahkan di salah satu kamarnya yang bernama kamar mandi. Ya, seperti kukatakan tadi, romantis itu hanya bisa dinikmati jika seseorang bersama dengan pasangannya. Seperti kita. Aku dan kamu. Jadi, mungkin kita bisa mencoba untuk mandi bersama, Sal.

Kamu mau, Sal?

Malu?

Tak perlu kau merasa malu, Sal. Toh kita sudah menjadi pasangan yang sah. Kita melakukannya di kamar mandi kita sendiri dan di dalam rumah kita sendiri. Kita tidak melakukannya di tempat umum seperti kolam renang yang banyak didatangi orang atau di sungai yang bisa dilihat banyak orang.

Kau masih tak mau?

Kau masih malu?

Bagaimana jika kuceritakan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersama istri beliau, ‘Aisyah? Rumah tangga beliau adalah panutan bagi kita. Mungkin kita tidak bisa meniru semuanya. Namun kita bisa meniru beberapa hal saja. Misalnya, mandi bersama.

Kau mau mendengarnya, Sal?

Dalam sebuah hadits, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Aku pernah mandi dari jinabat bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan satu tempat air, tangan kami selalu bergantian mengambil air.” (HR Mutafaqun ‘alaih). Bahkan di dalam riwayat Ibnu Hibban menambahkan, “Dan tangan kami bersentuhan”.

Setelah mendengar hadits tersebut yang bisa kita jadikan sebagai landasan untuk mandi bersama, apakah kamu masih ragu dan malu untuk melakukannya, Sal?


Tulisan Terkait Lainnya :

22 thoughts on “Mandi Bersama

  1. gegekrisopras Maret 3, 2016 / 15:50

    Aduh aku belum pantes baca nih mas masih anak kecil 😆 *tp imajinasi udah kemana-mana*

    • jampang Maret 3, 2016 / 15:59

      😀
      anak kecil bukannya emang pandai berimajinasi?

    • jampang Maret 4, 2016 / 05:16

      Mandi… Mandi…. 😀

    • jampang Maret 4, 2016 / 16:36

      😀
      mungkin mewakili yang merasa terwakili dengan jawaban itu

  2. Nev Maret 7, 2016 / 07:43

    Awalnya memang malu. 😀

    • jampang Maret 7, 2016 / 08:02

      lama-lama jadi mau #eh

      • Nev Maret 7, 2016 / 08:12

        Lama-lama terbiasa. 😀

      • jampang Maret 7, 2016 / 08:31

        naaaaaah 😀

    • jampang Maret 7, 2016 / 09:59

      ya belum tentu juga seh 😀

      • Jauharry Maret 7, 2016 / 10:35

        wah malah lebih lama yah ….

      • jampang Maret 7, 2016 / 11:15

        nah…. itu… itu… 😀

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s