[Prompt#95] Tempat Tertinggi

tempat tertinggi

Terseok kakiku melangkah. Begitu pula orang-orang yang berada di belakang dan di hadapanku. Wajah-wajah mereka sama seperti wajahku, dipenuhi tanda tanya tentang apa nama tempat di mana kami berada.

“Hai manusia-manusia berwajah bingung!” tiba-tiba terdengar sebuah panggilan yang mengejutkan kami semua.

Suara itu tanpa rupa. Menggema.

“Apa kalian tahu di mana saat ini kalian berada?” kembali suara itu terdengar.

Tak ada seorang pun di antara kami yang menjawab. Tak ada yang tahu. Kami mencoba mencari-cari sumber suara itu berasal. Nihil. Kami hanya bisa saling berpandangan satu sama lain.

“Kalian berada di sebuah tempat tertinggi yang terletak di antara kebahagiaan dan kesengsaraan yang abadi!” suara tanpa rupa itu menjawab pertanyaannya sendiri. “Jika kalian tidak percaya, cobalah tengok ke sebelah kanan kalian!”

Dengan langkah terseok, aku dan semua orang mendekati bagian tepi sebelah kanan dari tempat kami berpijak. Kami melemparkan pandangan ke arah bawah. Kami menemukan sebuah tempat yang sangat indah sekali. Sebuah tempat dengan pemandangan yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Pepohonan rindang dengan buah yang banyak dan beraneka rupa. Buah-buah itu tumbuh di dahan yang sangat rendah sehingga sangat mudah dipetik. Kulihat pula sebuah sungai dengan air yang begitu jernih mengalir di bawah pepohonan tersebut. Canda dan tawa bahagia para penghuninya terdengar sangat jelas.

“Itu adalah surga!” suara tanpa rupa itu memberitahu kami nama tempat tersebut.

Kulihat wajah-wajah bingung di sekelilingku berubah menjadi ceria. Ada senyum terukir membiaskan sebuah harapan. Sebuah harapan untuk tinggal di tempat tersebut.

Aku ingin ke tempat itu! Surga!

“Kalian belum tentu bisa masuk surga. Bisa jadi tempat di sebelah kiri kalian yang menjadi persinggahan terakhir kalian.”

Seperti diberi aba-aba, kami semua langsung mengayunkan langkah-langkah berat menuju bagian tepi sebelah kiri dari tempat kami berpijak. Ketika kami melemparkan pandangan ke arah bawah, kami melihat pemandangan yang langsung membuat kami bergidik. Api besar menyala membakar tubuh-tubuh penghuni termpat tersebut. Sebagian penghuni lain mengalami siksaan dan hukuman yang begitu mengerikan. Jerit dan tangis kesakitan terdengar begitu jelas dari mulut-mulut penghuninya.

“Itu adalah neraka!”

Kami langsung melangkah mundur. Menjauh.

“Tidak bisakah kami semua dimasukkan ke dalam surga?” tanyaku kepada sumber suara.

“Tidak bisa!”

“Mengapa?”

“Timbangan amalan baik dan buruk kalian sama berat.”

“Lantas, apa selamanya kami akan berada di sini?”

“Tidak. Saat ini kalian berada di ruang tunggu.”

“Menunggu apa?”

“Menunggu setitik kasih sayang dari Pencipta kalian yang akan membawa kalian ke surga atau setitik keadilan yang akan membenamkan kalian ke neraka.”

“Sampai kapan?”

“Bersiaplah!”

Selepas suara itu menjawab pertanyaanku terakhir, tiba-tiba tempat kami berpijak bergetar hebat. Kami semua berteriak. Panik. Bergerak tak tentu arah. Sebagian dari kami terlempar dan kemudian melayang-layang ke sisi kanan. Sementara sebagian lagi terhempas ke sebelah kiri. Lalu aku merasakan kedua kakiku terlepas dari tempat berpijak.

“Aaaaaaaakh!”

—o0o—

Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf (tempat tertinggi di antara surga dan neraka) itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun ‘alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).

Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu”.

Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfa’at kepadamu.”

(Orang-orang di atas A’raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang545 yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?”. (Kepada orang mu’min itu dikatakan): “Masuklah ke dalam syurga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.”

[Surat Al-A’raf : 46-49]

 


Tulisan Terkait Lainnya :

20 thoughts on “[Prompt#95] Tempat Tertinggi

  1. winnymarlina Desember 23, 2015 / 09:03

    nemu aja kak surah tentang surga, makasih telah mengingatkan

    • jampang Desember 23, 2015 / 09:44

      soalnya hari senin kemarin, ada kajian di kantor tentang ayat itu, mbak😀

  2. febridwicahya Desember 23, 2015 / 10:51

    Dari surat Al A’raf, kamu bisa bikin cerita beginian mas :’ duh memang ya mas, serem gimana nanti kita. Apa masuk ke sebelah kanan, atau yang sebelah kiri :’

    • jampang Desember 23, 2015 / 10:56

      ya pengennya seh nggak usah ngeliat orang2 yang masuk surga duluan atau belakang…. maunya masuk surga di kelompok yang duluan. aamiin

      • febridwicahya Desember 23, 2015 / 11:13

        Aamiin :)) semoga kita termasuk golongan yang duluan masuk surga :))

      • jampang Desember 23, 2015 / 11:20

        aamiin yaa rabbal ‘aalamiin

  3. sari Desember 23, 2015 / 14:17

    T_T

    speechless..

    Semoga Allah menempatkan kita semua ke dalam golongan kanan..ashabul yamin.. T_T

    • jampang Desember 23, 2015 / 15:07

      aamiin yaa rabbal ‘aalamiin

  4. damarojat Desember 23, 2015 / 14:41

    Makin ke sini tulisan fiksi mas makin mengerucut ke masalah ini. salut mas.

    • jampang Desember 23, 2015 / 15:06

      terima kasih, mbak.
      cuma ya, blm bisa bikin yang bagus

  5. Mas Djie Desember 23, 2015 / 15:49

    Ada baiknya kita mungkin jangan berkeinginan untuk masuk surga, tapi berhaaplah bisa bertemu Allah. Apa gunanya masuk surga bila nanti Allah cuek pada kita, sedangkan nikmat terbesar nanti di surga iyu adalah bisa melihat Allah. Tapi bila kita sudah bertemu Allah sudah pasti itu tempatnya disurga, bukankah begitu kang?.🙂

    • jampang Desember 23, 2015 / 15:55

      bertemu Allah adalah kenikmatan tertinggi dan keridhoanNya memang yang kita cari…. tetapi kalau manusia dilarang untuk memiliki keinginan masuk surga…. mengapa bertebaran ayat-ayat Al-quran yang menceritakan tentang surga dan neraka. pastilah ada maksud dan makna di aayat-ayat tersebut…. sebab tak ada satu huruf pun yang sia-sia di dalam ayat-ayat al-quran.

      • Mas Djie Desember 23, 2015 / 16:13

        Nah disinilah kelemahan kita memahami ayat Al-Quran. Ayat tentang surga dan neraka dalam ayat Al-Quran itu, sebagai isyarat atau katakanlah variabel dari perkara yang haq dan bathil.
        Adalah kurang benar bila kita beribadah karena ingin masuk surga, tapi yang paling tepat adalah karena (cinta pada) Allah.
        Pembuktiannya, mari kita perhatikan lafadz niat dalam segala ibadah, saya contohkan nih dalam berwudhu misalkan, niatnya : nawaitul udhuu-a lirof’il hadatsil ashghari fardho lillahi ta’ala.
        Sudah jelas kalimatnya ‘lillahi ta’ala’, bukan ‘lidkhulul jannah’. Begitu juga lafadz-lafadz miat ibadah lainnya seperti sholat, puasa, zakat bahkan haji.🙂

      • jampang Desember 23, 2015 / 16:38

        kalau lafazh niat itu…. sepertinya tidak ada bentuk baku…. tidak ada pula keterangan mengenai lafazh niat terebut di dalam al-quran dan al-hadits. sebab yang namanya niat bukan dilafazkan dengan lidah…. terbersit di hait itulah yang namanya niat dan disertai dengan perbuatan.

        yang saya tahu… ayat al-quran dipahami secara teksnya dahulu jika memang tidak dibutuhkan penafsiran.

        ya mungkin bagi kalangan tertentu, bisa berpendapat bahwa ibadah jangan berharap masuk surga atau karena takut neraka…. namun bagi yang awam seperti saya… ya masih mengharap surga dan neraka. meskipun nantinya ibadah yang saya lakukan enggak akan sebanding dengan nikmat yang Allah berikan.

        sedangkan untuk perkara haq dan batil…. ayat Al-quran pun ada yang menyebutkannya secara jelas dan gamblang

  6. bunda rizma Desember 23, 2015 / 16:13

    duhai indahnya kajian senin kmrn jadi tulisan begini🙂
    makasih mas rifki

    • jampang Desember 23, 2015 / 16:32

      untungnya nggak tidur, lok😀

  7. Dyah Sujiati Desember 24, 2015 / 13:11

    Tidak menentukan sikap analoginya seperti itu ya

    • jampang Desember 24, 2015 / 23:23

      ya…. bisa jadi, mbak

Tinggalkan jejak anda di sini....

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s